Friday, June 20, 2014

Perlukah Kolom Agama Dihapus Dari KTP?

Jawaban singkat dari saya sih "Perlu!!" tapi, saya rasa bukan itu jawaban yang pas buat ditulis di blog ini. Kurang panjang lebar, gitu ceritanya...

Yang gonjang-ganjing pemilihan calon presiden di Indonesia, yang ribut-ribut karena media yang nggak bosan-bosannya ngomporin. Inilah kenapa saya setuju kolom agama dihapuskan dari kartu tanda penduduk kita.

Pasangan calon presiden Joko Widodo dan wakilnya Jusuf Kalla, mengatakan bahwa kalau mereka terpilih menjadi presiden, maka mereka akan menghapuskan kolom agama di KTP. Alasan mereka cukup jelas dan gamblang: bahwa kolom agama di KTP telah berkian-kian tahun menyebabkan banyak penduduk Indonesia didiskriminasi karena agama yang tercantum di KTP mereka. Terutama yang agamanya tidak mayoritas. 

Memang betul ada peraturan yang mengatakan bahwa kolom agama boleh dikosongi. Tapi kalau beda agama aja berdampak diskriminasi, bagaimana yang kolom agamanya dikosongi? Bisa-bisa bukan cuma didiskriminasi tapi malah sekalian digebukin. 

Enam agama utama yang diakui di Indonesia, bukanlah agama asli Indonesia. Indonesia punya warisan lokal yang malah sekarang tidak diakui sebagai agama di negeri sendiri. Kejawen misalnya, malah dikatakan musyrik atau menyembah berhala karena kepercayaan mereka. Dengan kolom agama di KTP, orang yang mempercayai Kejawen tidak bisa menulis Kejawen di kolom agama (karena tidak diakui), dan pilihan lainnya adalah mengosongi atau menggantinya dengan agama lain yang bukan agamanya. 

Diskriminasi banget kan?

Di negara-negara maju pertanyaan: apa agamamu? bukan cuma tidak lazim, namun bahkan bisa cenderung dianggap tidak sopan. Kolom agama sudah lama dihapus dari formulir-formulir, dan kartu identitas karena dianggap rawan diskriminasi. Kecuali untuk kepentingan survey dan sensus, hampir tidak pernah saya mendapati pertanyaan-pertanyaan seperti: agama, ras atau etnisitas. 

Jadi, saya setuju kalau kolom agama dihapus dari KTP. Kamu juga dong...

Monday, May 5, 2014

Memurnikan Agama: Maksudnya Apa Sih?

Menjelang pemilihan presiden, tiap calon dan tim suksesnya melancarkan banyak agenda dan pernyataan-pernyataan di media. Tujuannya jelas, supaya mendapat sebanyak mungkin dukungan dari berbagai kelompok masyarakat. Kalau bisa dukungan dari yang mayoritas, karena dalam demokrasi, makin rame makin asik.

Dan, demi dan hanya demi, mendapatkan banyak dukungan suara, dan meningkatkan popularitas, para bakal calon presiden ini mengeluarkan pernyataan yang menurut saya tidak masuk akal, bahkan menjurus ke arah blunder politik. Salah satunya adalah pernyataan salah satu calon dari partai yang mendulang cukup banyak suara di pemilu kemarin (yang pada awalnya cukup menarik hati saya juga), bahwa salah satu agenda yang akan dilaksanakan kalau dia jadi presiden adalah "memurnikan agama".

Maksudnya apa?

Tidak banyak penjelasan mengenai pernyataan ini. Saya rasa tujuan awalnya hanyalah untuk menarik simpati dari golongan agama. Tapi sama seperti pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh bakal calon yang lain, pernyataan ini pun pada akhirnya habis-habisan dibedah dan dianalisa.

Maksudnya apa nih dengan memurnikan agama? Apakah itu berarti cabang-cabang agama yang tidak termasuk dalam enam agama yang diakui di Indonesia akan dibasmi? Apakah akan dibasmi dengan militer seperti jaman dulu? Apakah gedungnya akan dibakar dan pengikutnya akan di sembelih (atau dipenjara)?

Pernyataan ini tentu saja menimbulkan tidak hanya pertanyaan, namun juga rasa takut dari golongan cendekia dan pluralis. Apabila seorang presiden terang-terangan menyatakan bahwa dia akan mendikte agama apa yang benar dan apa yang salah, dan mana yang boleh dipercaya dan mana yang sesat, maka bukan hanya negara akan menjadi negara berdasar agama, namun juga negara yang otoriter.

Jangan-jangan kita akan kembali ke jaman kegelapan di mana orang pintar yang mempertanyakan dogma akan digantung di tengah alun-alun kota?

Ah, mungkin saja tim sukses bakal calon presiden ini sedang tergelincir dan mengatakan sesuatu tanpa memikirkan dampaknya. Dan seandainya benar ini hanya terpeleset lidah saja, apakah ini sebuah pertanda baik? Apakah baik punya presiden yang ngomong dulu mikir belakangan?

Hayo, bapak-bapak bakal calon presiden (dan ibu)... Selamat berjuang dan berkampanye dengan bersih dan hati-hati.

Friday, May 2, 2014

Pemilu? Kamu Nyoblos?

Bagi yang berhasil menyumbang suara pada perayaan pesta demokrasi bulan lalu, saya mengucapkan selamat dan terima kasih banyak. Sayangnya saya harus mengakui bahwa karena situasi yang tidak memungkinkan saya tidak bisa ikut berpartisipasi dalam pemilu legislatif kemarin, moga-moga saja situasi berubah dan saya akhirnya bisa ikut dalam pemilihan presiden mendatang.

Sayangnya saya masih belum tahu siapa yang saya inginkan untuk menjadi presiden Indonesia untuk periode mendatang. Pilihannya agak sulit bukan?

Semakin dekat dengan hari pemilihan, rasanya semua calon jadi makin kelihatan baik-buruknya. Saya yang dulunya pede dengan beberapa orang calon, makin lama kok makin tidak yakin dengan para kontestan pemilu kali ini. Saya rasa saya tidak sendiri, banyak orang merasakan hal yang sama dengan saya...

Saya juga mengerti bahwa beberapa orang merasa skeptis, dan merasa takut dikecewakan sehingga memilih untuk tidak ikut berpartisipasi. Sama seperti yang saya katakan beberapa waktu yang lalu, kalau anda memutuskan untuk tidak memilih sama sekali, tetaplah datang ke TPS, gunakan kertas suara anda, dan bikin suara anda tidak valid. 

Itu adalah cara yang paling aman untuk menjadi golput, supaya suara/kerta suara anda tidak disalah gunakan oleh oknum yang ingin bermain curang dalam pemilihan kali ini. 

Tidak lupa, selamat juga untuk partai-partai yang mendulang suara cukup banyak dan bisa mengangkat calonnya ke pemilu presiden. :)